Alasan Kata 'China' Diganti 'Tiongkok'

Mengapa istilah "Cina" atau "China" lebih sering diganti menjadi "Tiongkok"? Masalah ini mencuat lagi seiring pandemi Covid-19 yang pertama kali muncul di Wuhan, China.

Alasan Kata 'China' Diganti 'Tiongkok'

Alasan Kata 'China' Diganti 'Tiongkok' dapat dipahami dari penjelasan berikut ini di laman Quora.

Kata “Cina” berasal dari bahasa Sanskerta चीन (cīna). Dalam bahasa Mandarin adalah 支那(Zhīnà)yang diserap dari bahasa Jepang 支那 (しな Shina) untuk menyebut negara Tiongkok.

Pada awalnya, kata "China" tidak digunakan untuk menghina. Menurut kamus bahasa Mandarin modern 现代汉语规范词典 Xiàndài Hànyǔ Guīfǎn Cídiǎn, pada zaman dahulu, orang India, Persia, dan Yunani kuno menggunakan kata “Cina” untuk menyebut orang Cina kuno.

Namun, sejak kekalahan Dinasti Qing dalam perang Sino-Jepang pada 1894–1895, kata "Shina" dipakai oleh orang-orang Jepang yang militeristis untuk menghina Tiongkok.

Sejak saat itu, banyak orang Tionghoa merasa mendapat perlakuan diskriminatif ketika dipanggil dengan sebutan “China”.

Sekarang pun Jepang menyebut Tiongkok 中国 (ちゅうごく Chugoku), bukan lagi "Shina".

Alasan Kata 'China' Diganti 'Tiongkok' 

Di Indonesia, alasan kata "China" diganti menjadi "Tiongkok" adalah untuk mengurangi bahkan menghilangkan diskriminasi terhadap warga Indonesia keturunan Tionghoa.

Dilansir Kompas, penggantian istilah China menjadi Tiongkok di Indonesia diresmikan melalui Keputusan Presiden Nomor 12 Tahun 2014 tentang Pencabutan Surat Edaran Presidium Kabinet Ampera Nomor SE-06/PRES.KAB/6/1967 (Keppres 12/2014).

SE yang diteken Soesilo Bambang Yudhoyono itu menetapkan, dalam semua kegiatan penyelenggaraan pemerintahan, penggunaan istilah orang dan atau komunitas Tjina/China/Cina diubah menjadi orang dan atau komunitas Tionghoa, dan untuk penyebutan negara Republik Rakyat China (RRC) diubah menjadi Republik Rakyat Tiongkok (RRT).

Pertimbangan yang dituliskan pada Keppres tersebut adalah sebagai berikut:

a. bahwa Surat Edaran Presidium Kabinet Ampera Nomor SE-06/Pres.Kab/6/1967, tanggal 28 Juni 1967 yang pada pokoknya mengganti penggunaan istilah "Tionghoa/ Tiongkok" dengan istilah "Tjina", telah menimbulkan dampak psikososial-diskriminatif dalam relasi sosial yang dialami warga bangsa Indonesia yang berasal dari keturunan Tionghoa;

b. bahwa pandangan dan perlakuan diskriminatif terhadap seseorang, kelompok, komunitas dan atau ras tertentu pada dasarnya melanggar nilai, prinsip, perlindungan hak asasi manusia, karena itu bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Undang-Undang tentang Hak Asasi Manusia dan Undang-Undang tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis;

c. bahwa sehubungan dengan pulihnya hubungan baik dan semakin eratnya hubungan bilateral dengan Tiongkok maka dipandang perlu untuk memulihkan sebutan yang tepat bagi Negara People's Republic of China dengan sebutan Negara Republik Rakyat Tiongkok.

d. bahwa ketika Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 ditetapkan, para perumus Undang-Undang Dasar tidak menggunakan sebutan Cina melainkan menggunakan frasa peranakan Tionghoa bagi orang-orang bangsa lain yang dapat menjadi warga negara apabila kedudukan dan tempat tinggalnya di Indonesia, mengakui Indonesia sebagai tanah airnya dan bersikap setia kepada Negara Republik Indonesia, sebagaimana tersurat dalam penjelasan Pasal 26 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

Apa Bedanya dengan Tionghoa?

Penggunaan kata China, Tiongkok, dan Tionghoa sering bergantian. Ini penjelasannya.

Dilansir laman Ayo Bandung, Kata “China” diduga berasal dari kata bahasa Sansekerta “Sin”. Kata ini pertama kali digunakan sekitar 2.000 tahun silam dan lantas digunakan dalam sejumlah bahasa Asia, termasuk bahasa Parsi dan bahasa Arab.

Orang-orang Barat kemudian menyerap kata “Sin” ini menjadi “Chino” (Portugis), “Chine” (Prancis) dan “China” (Inggris). 

Laman The American Heritage Dictionary menjelaskan, kata “China” kemungkinan besar merupakan bentuk penyebutan yang salah oleh orang-orang Barat terhadap kata “Qin”.

Qin adalah salah satu dinasti yang pernah berkuasa di China di abad ke-3 sebelum masehi.

Sebagai negara yang paling besar jumlah penduduknya di muka bumi, bahasa China menjadi bahasa paling banyak penuturnya di seluruh dunia.

Sekurangnya, ada enam dialek dalam bahasa China, yaitu Hakka, Hokian, Kanton, Mandarin, Wu dan Xiang. Dalam dialek Hokian, China disebut “Diongguok”.

Nah, kata “Tiongkok” dan “Tionghoa” kemungkinan besar diambil dari kata dialek Hokian itu: “Diongguok” dan “Dionghoa”.

Jadi, "Tionghoa" merujuk pada nama bangsa. Sementara Tiongkok merujuk pada negara, yaitu RRT.

Masalahnya, masyarakat kita sudah terbiasa dengan istilah China. Penggunaan kata Tiongkok pun masih terdengar asing bagi beberapa kalangan masyarakat.*

Thanks for reading Alasan Kata 'China' Diganti 'Tiongkok' | Labels: Bahasa edit this post
Author Image

About CB Blogger
Contoh Blog --sebut saja CB -- Panduan Blogging untuk Pemula - Tips SEO, Desain, Template SEO Friendly, Cara Membuat Blogger Keren, Google Adsense, dll. Subscribe! to get update via email.

1 komentar on Alasan Kata 'China' Diganti 'Tiongkok'

  1. Jadi seperti itu sejarahnya ya. Yah menurutku sih gak ada salahnya juga menyebut Tiongkok karena menghargai mereka.

    ReplyDelete

Contact Form

Name

Email *

Message *

Back To Top